Tuesday, June 24, 2014

ArchaeOpinion 2

Fort Rotterdam: Ekskavasi atau Vandalisme

Pada postingan kali ini, penulis lebih menempatkan foto-foto lebih banyak daripada tulisan. Sebenarnya, hal yang akan dibahas sudah lama dibenak penulis, namun penulis butuh beberapa pertimbangan dalam mempublikasikan hal ini.
Ekskavasi dalam arkeologi merupakan teknik kegiatan pengumpulan benda-benda dari dalam tanah untuk mengungkap kehidupan masa lampau. Ekskavasi sebenarnya bersifat merusak, mengapa dikatakan merusak? Karena ekskavasi bisa saja merubah konteks suatu temuan. Oleh karena itu, seorang arkeolog biasanya menempatkan ekskavasi sebagai pilihan terakhir dalam proses perekaman data dan memang dibutuhkan.
Pada suatu kesempatan, penulis berkunjung ke Fort Rotterdam dan melihat pemandangan yang tidak mengenakkan. Pemandangan tersebut adalah bekas-bekas ekskavasi di sebelah selatan Fort Rotterdam. Menurut informasi yang penulis dapat, ekskavasi tersebut dilakukan oleh pihak Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan, Barat, dan Tenggara. Kegiatan ekskavasi tersebut berlangsung 15 hari, dimulai pada tanggal 10 - 25 September 2013. Tujuan ekskavasi tersebut untuk mencari tahu struktur dinding selatan dan kanal Fort Rotterdam. Pihak BPCB mengatakan bahwa kotak ekskavasi yang dibuka tidak akan ditutup kembali, tetapi dijadikan sebagai objek yang menarik minat pengunjung ke Fort Rotterdam. Lokasi ekskavasi tidak dibebaskan bagi pengunjung karena akan dipasangi pagar atau Police Line disekelilingnya sehingga pengunjung tidak bisa seenaknya melakukan tindakan yang bisa merusak struktur Fort Rotterdam.
Setahun kemudian, kondisi kotak ekskavasi yang penulis lihat tidak seperti gambaran yang diberikan oleh pihak BPCB. Berikut foto-foto yang bisa penulis tampilkan.









Kotak ekskavasi yang penulis lihat lebih mirip dengan tempat sampah. Seperti tulisan ArchaeOpinion sebelumnya yang membahas tentang vandalisme, apakah hal ini bisa dikatakan sebagai vandalisme atau tidak?
Menurut penulis, hal ini bisa dikatakan sebagai vandalisme dan pembiaran kerusakan pada Fort Rotterdam. Tetapi, ini hanya pendapat penulis saja. Bagaimana dengan anda??

Tuesday, June 3, 2014

MENGAWAL ARWAH KE ALAM BAKA

“Ritual Tiwah, Suku Dayak di Kalimantan Tengah”

Indonesia merupakan wilayah kepulauan yang membentang dari Sumatera ke Papua dengan sejuta kultur budaya yang unik, baik budaya tutur maupun budaya material. Unsur-unsur kearifan lokal tertanam dalam batin masyarakat yang menjunjung tinggi hasrat untuk melestarikan budaya. Di zaman yang semakin tinggi tingkat mobilitasnya, memungkinkan budaya-budaya tersebut tereksplor ke dunia luar dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia secara umum. Salah satu kebudayaan lokal yang menarik menurut penulis adalah ‘Ritual Tiwah’ Suku Dayak di Kalimantan Tengah.
Secara astronomis, Kalimantan Tengah terletak di 1110-1150BT dan 0045’LU-30300LS dengan luas wilayah 153.564,50 Km2. Secara administratif, jumlah penduduk Kalimantan Tengah sekitar 2.514.375 jiwa dan sekitar 41,24% penduduk asli atau Suku Dayak (Permendagri No.66 Thn. 2011). Menurut data sensus tahun 2000, Suku Dayak di Kalimantan Tengah terpecah menjadi empat sub-suku, yaitu Dayak Ngaju, Dayak Sampit, Dayak Bakumpai, Dayak Katingan, dan Dayak Maanyan. Dari kacamata budaya, Suku Dayak memiliki tingkat akulturasi[1] yang cukup besar sehingga kepercayaan lokal bercampur dengan kepercayaan yang datang dari luar. Kepercayaan lokal Suku Dayak adalah Kaharingan. Menurut data sensus tahun 2010, pemeluk kepercayaan Kaharingan tersebar di seluruh Kalimantan Tengah dengan konsentrasi di sekitar hulu sungai, seperti hulu sungai Kahayan, sungai Katingan, dan hulu sungai lainnya. Salah satu keunikan dari Suku Dayak menurut penulis adalah Ritual Tiwah Suku Dayak. Sebagian besar masyarakat pemeluk kepercayaan Kaharingan dan pemeluk kepercayaan lainnya (sinkretisme[2] dari Kaharingan) masih menjalankan ritual tersebut.
Ritual Tiwah merupakan akhir dari rangkaian upacara kematian bagi pemeluk kepercayaan Kaharingan. Ritual ini adalah prosesi menyucikan dan memindahkan jasad dari liang kubur ke sebuah tempat yang disebut Sandung[3]. Sebelum ritual tersebut dilakukan, ada satu ritual yang dilakukan, yaitu Ritual Tantulak. Ritual Tantulak merupakan ritual tolak bala bagi arwah sekaligus ‘mengawal’ arwah ke Bukit Mailan[4], dari situ arwah-arwah menunggu kedatangan tuhan mereka yang mereka sebut Ranying Hattala Langit. Selanjutnya, sebelum arwah tersebut masuk ke Surga, sanak saudara yang masih hidup hendak melaksanakan Ritual Tiwah. Ritual Tiwah bertujuan untuk melepas ‘rantai duniawi’ sehingga arwah bisa bertemu dengan tuhannya. Ritual ini dilakukan ketika jenazah keluarga yang meninggal sudah menjadi tulang. Kuburnya digali dan tulang-tulangnya diangkat, kemudian tulang-tulang tersebut dibersihkan dan disucikan dengan rangkaian ritual khusus dan akhirnya tulang tersebut ditempatkan di dalam Sandung. Rangakaian ritual itu juga dibarengi dengan persembahan hewan kurban, berupa kerbau, sapi, atau babi.
Melihat dari keunikan-keunikan Ritual Tiwah, menurut penulis, kebudayaan lokal tersebut pantas untuk diteliti lebih lanjut dan menjadi bahan untuk penelitian etnografi atau antropologi. Ritual Tiwah merupakan salah satu keunikan Indonesia yang pantas dilestarikan dan semoga keunikan-keunikan budaya Indonesia yang lainnya juga bisa dipublikasikan sehingga menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita sebagai masyarakat Indonesia.



[1] Percampuran dua kebudayaan yang berbeda namun beberapa ciri khas dari masing-masing kebudayaan tersebut tidak dihilangkan.
[2]Salah satu bentuk dari akulturasi, dimana sinkretisme lebih merujuk pada penyatuan paham dari kepercayaan yang berbeda dengan memberi toleransi kepada kepercayaan yang terlebih dahulu ada, contoh lainnya yaitu, Islam Kejawen, Suku Jawa.
[3]Tempat khusus menyimpan tulang, Suku Dayak.
[4]Konsep khayangan tempat reinkarnasi arwah menurut Suku Dayak.

Friday, March 28, 2014

MUSEUM UNTUK SEMUA




Mungkin kerap kali kita mendengar kata museum dan ketika mendengar kata itu, yang terlintas di kepala kita pada umumnya adalah tempat memamerkan barang-barang antik. Memang kalimat tersebut hampir tepat karena yang selama ini kita lihat adalah hal seperti itu. Para pengunjung biasanya hanya menikmati benda pameran saja dan bisa saja memiliki keinginan untuk memegang, memindah tempatkan, dan membeli replikanya. Tidak bisa dipungkiri perasaan seperti itu bagi orang awam adalah persoalan yang wajar, tapi, bagaimanakah seorang akademisi melihat hal seperti itu?
http://www.teylersmuseum.eu/afbeeldingen/gebouw/fs/de_eerste_schilderijenzaal_van_teylers_museum_foto_kees_hageman.jpgSebelum melangkah lebih jauh, kita mesti meluruskan pendapat tentang museum di atas. Museum sebenarnya merupakan lembaga non-profit yang didalamnya mengoleksi, memamerkan, dan menjaga benda-benda peninggalan budaya masa lampau. Jadi, museum adalah lembaga bukan tempat. Pameran di museum tidak lepas dari peranan publik, dalam hal ini sebagai pengunjung museum. Nah, letak persoalan adalah peran museum dalam mengatur pengelolaan benda koleksi yang dipamerkan.
Sebagian dari kita pernah pergi ke museum dan melihat pengelolaan disana. Bisa dibayangkan jika semua pengunjung membawa pulang benda koleksi ke rumahnya masing-masing tanpa sepengetahuan pihak museum. Museum bisa berhenti. Makanya perlu penanganan yang baik dan juga perlu pemahaman publik soal museum. Publikasi benda-benda koleksi bukan hanya memperhatikan aspek kebendaannya saja melainkan juga perlu diperlihatkan nilai-nilai yang terkandung dalam benda tersebut, sehingga pengunjung atau publik bisa ikut terlibat dalam salah satu fungsi museum yaitu pelestarian.
Selain itu, kita melihat tujuan museum sebagai sarana pendidikan dan sarana rekreasi yang tentunya diarahkan kepada publik secara umum. Memang fungsi museum harus seimbang agar publik lebih bisa merasakan manfaat berkunjung ke museum, bukan hanya menghabiskan waktu melihat koleksi yang sebenarnya tidak memiliki arti apa-apa jika dilihat saja.
Kembali ke pertanyaan awal, dimanakah peran akademisi jika terjadi permasalahan yang diangkat diatas? Oke, akademisi yang dimaksud adalah calon-calon arkeolog muda. Jika melihat permasalahan diatas mungkin kita akan memikirkan soal konservasi atau menanggulangi potensi kerusakan, tapi perlu diingat bahwa peran akademisi dalam pengelolaan museum hanya sebatas memantau saja dan yang bisa kita lakukan adalah memberikan pengetahuan awal kepada masyarakat soal museum dengan cara-cara akademik dan memakai pendekatan-pendekatan yang sesuai dengan lawan bicara kita (calon atau pengunjung museum). Para akademisi juga bisa membuat pameran kecil-kecilan dan tentunya bisa mengeluarkan ide-ide yang lebih kreatif. Para akademisi harus mempertimbangkan tujuan dan fungsi museum yang sebenarnya sehingga diharapkan kedepannya, pengelolaan museum jauh lebih baik dari yang sekarang. Selain itu, salah satu mata kuliah yang ditawarkan menyangkut museum adalah museologi, jadi masalah pengelolaan museum dapat dibahas di mata kuliah ini.
Museum dan publik sangat, sangat berhubungan. Mata kuliah museologi bisa menjadi sebagai penengah antara kedua hal tersebut, pengelolaan museum dan bagaimana interaksi dengan pengunjung/ publik. Pesan-pesan dari benda-benda yang dikoleksi dan dipamerkan haruslah sampai kepada pengunjung sehingga tujuan dan fungsi museum bisa berjalan sebagai mana mestinya. Calon-calon arkeolog muda jangan hanya memikirkan dirinya sebagai arkeolog tetapi juga sebagai pengunjung, bedanya, kita tahu dan kita mesti menyebarkan pengetahuan tersebut dengan cara kita sendiri sehingga pengunjung lain merasa nyaman dan tidak merasa digurui. (Joker)

Tuesday, January 14, 2014

Coretanku: Pendidikan Instan

   Dijaman yang serba instan, manusia sering lupa terhadap proses yang mereka lalui. Saking mengerikanya, hal-hal yang seharusya tidak boleh di "instan" kan menjadi bisa instan...
    Otak manusia diprogram untuk memproses sesuatu yang belum diketahui menjadi bisa diketahui, langkah demi langkah, sama halnya dengan rumus matematika. Walaupun rumus-rumus tersebut memiliki cara singkat, namun rumus tersebut tentu saja telah melewati langkah-langkah yang cukup panjang hingga ketika dicari penyederhanaannya, akan lebih mudah.
    Nah, yang menjadi persoalan adalah hal yang seharusnya tidak boleh "instan" bisa menjadi instan tanpa proses apa-apa. PENDIDIKAN!!
   Ya, pendidikan merupakan proses mendidik seseorang namun pada kenyataannya proses tersebut tidak pernah terjadi, kata pendidikan kini hanya sekedar formalitas belaka. Kalau begitu, kenapa bisa demikian?? Manusia diberi sifat malas, ketika mereka berada di "Zona Nyaman", mereka tidak lagi mau ambil pusing dengan apa yang sedang terjadi. Semakin mereka berada di Zona Nyaman tersebut maka INSTAN adalah kata-kata yang sering menjadi andalan mereka dan mereka juga semakin terjebak di "Alam Tanpa Proses". Akibat yang paling parah adalah tentu saja kebodohan.

    Mari kita cari contoh nyata di kehidupan kita...
1. Tiba Masa Tiba Akal
   Yup, kata-kata diatas sering sekali kita alami, terlebih saat ujian tiba. Sehari sebelumnya kita memaksa otak kita untuk berpikir, bagaimana cara menjawab soal dengan benar. What's going on dude? Bagaimana dengan pendidikan/ proses pembelajaran yang selama ini kita lakukan? Jawabannya adalah sia-sia karena kita hanya mempergunakan waktu satu hari untuk belajar. Apa bedanya jika tidak sekolah namun hanya mengikuti ujian saja? Lebih baik dirumah dan menunggu hingga ujian datang.
2.Menjiplak Tugas Orang Lain
   Kebiasan buruk dari INSTAN yang mengakibatkan kemalasan berpikir. Bayangkan saja, tugas yang kamu buat sama dengan tugas sepuluh orang yang lainnya? Ngga' banget bro! Kreativitas kamu malah tidak keluar dengan maksimal. Ketika kamu mengerjakan tugas, kamu akan mengandalkan orang lain dan ketika orang lain itu tidak mengerjakan tugas, yah, otomatis kamu juga bisa jadi tidak mengerjakan tugas.
3. Mencontek
   Ini yang paling lucu! Kenapa? Bayangkan, kamu sudah menghabiskan waktu duduk mendengarkan pelajaran selama bertahun-tahun dan kamu belajar keras dalam satu hari. Tiba di ruang ujian, kamu mengandalkan orang yang disampingmu. Jadi, apa gunanya kamu menghabiskan waktu, uang, dan tenaga, hanya untuk melirik ke sebelah kanan dan kiri? Lebih baik kamu katakan kepada pengawas ujian kalau kamu ingin melihat buku untuk menjawab pertanyaan dengan benar.

   Nah, mungkin itu yang paling sering kita jumpai atau alami. Namun, kenapa rasa malas itu muncul? Mari kita melihat dari segi pendidikan yang diberikan.

1. Paksaan
   Kamu menyukai pelajaran seni dan tidak menyukai matematika, setelah ujian, nilai matematika kamu jelek dan  kamu dinyatakan tidak lulus. Sungguh tidak adil, ya kan? Kenapa kita dipaksa untuk melakukan sesuatu yang menurut kita hal tersebut tidak cocok untuk kita? Mestinya, pendidikan itu tidak memaksa sehingga hasilnya menjadi maksimal. Mengapa bisa demikian? Karena untuk memaksimalkan potensi yang kamu punya, kamu harus bisa mengeliminasi hal yang tidak berguna bagi kamu. Bayangkan jika pelajaran yang kurang berguna dipaksakan untuk kamu, pelajaran yang berguna jadi terjepit di antara yang tidak berguna dalam otak kamu, akibatnya yang penting tersebut bisa kamu lupakan.
2. Cara Mendidik
   Ini juga bisa menjadi salah satu faktor kenapa orang tidak mudah menerima pendidikan dengan baik. Dari sisi psikologis, murid/siswa/mahasiswa mempunyai mental takut kepada yang lebih pintar. Beberapa pengajar memanfaatkan hal tersebut dengan tidak benar. Mereka membuat rasa takut mereka bertambah besar dengan kata-kata "Awas, kalau kamu tidak menjawab pertanyaan, kamu tidak lulus!" atau "Awas, kalau kamu macam-macam, nanti nilai E yang saya beri!". Hal tersebut malah membuat mereka menjadi tidak menjadi orang yang terdidik, malah membuat mereka layaknya robot atau kasarnya BUDAK! Akhirnya mereka mempunyai dendam dengan orang telah memberi mereka pendidikan. Ironis.

   Pendidikan mestinya menjadi proses yang menyenangkan bukan menjadi momok sehingga berubah menjadi instan. Untuk membuat pendidikan menjadi sebuah proses yang menyenangkan tidaklah mudah. Kita harus memperbaiki sistem pendidikan yang sudah ada dan untuk merubah sistem perlu kesadaran dari diri kita masing-masing mulai dari sekarang. Memang membutuhkan waktu lama, tapi apa salahnya menjadi pakkaramula...
So, keep movin' with good process dan jangan jadi manusia "instan"!!! 
(Tapi bisa ji makan mie instan!)

Friday, January 10, 2014

ArchaeNote

KEHIDUPAN PESISIR DILIHAT DARI KACAMATA KEKINIAN
(Artikel Ekologi Maritim)
Oleh Peniel Chandra

1.    Pendahuluan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi IV, ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan (kondisi) alam sekitarnya (lingkungannya). Ekologi tentu erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, entah dimana lingkungannya, pastilah mempengaruhi tingkah laku manusia tersebut. Dalam ilmu psikologi, ada tiga teori psikologi dalam memprediksi perilaku manusia. Pertama, perilaku disebabkan dari dalam, kedua, perilaku disebabkan faktor lingkungan atau proses belajar, ketiga, perilaku disebabkan oleh interaksi manusia–lingkungan (A.F. Helmi, 1999:1). Teori ini tentu saja sangat berkaitan dengan ekologi jika ditinjau dari segi psikologis. Selain itu, kondisi alam juga terkait dengan pekerjaan pokok masyarakat dan perekonomian. Masyarakat agraris erat kaitannya dengan sumber perekonomian yang berasal dari lahan pertanian, sedangkan masyarakat maritim erat kaitannya dengan sumber perekonomian yang berasal dari lautan.
Pada tulisan ini, akan ditekankan pada masyarakat pesisir/ maritim, sesuai dengan hasil observasi lapangan yang dilakukan oleh penulis. Dalam kehidupan maritim juga dikenal dengan sosial budaya bahari. Menurut Koentjaraningrat menerapkan konsep “tiga wujud kebudayaan”, menurut Sanjek menerapkan konsep “kreasi dan dinamika budaya”, dan menurut Vayda menerapkan metode penjelasan progresif kontekstual” sebagai model deskripsi, penjelasan dan analisis secara empirik. Wujud budaya bahari nelayan ialah sistem budaya (meliputi terutama sistem-sistem pengetahuan, gagasan, keyakinan, dan daftar kebutuhan serta cita-cita dalam kognitifnya), kelembagaan (organisasi, kelompok kerjasama nelayan, hak-hak pemilikan/kontrol atas wilayah dan sumberdaya laut), dan teknologi (sarana/prasarana transportasi laut, sarana penggerak berupa layar, mesin, alat-alat tangkap, perlengkapan fisik lainnya).
Pada tulisan kali ini, penulis mengambil objek di daerah pesisir, tepatnya di Tanjung Bayang, Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Makassar, Sulawesi Selatan. Dari Kota Makassar, Tanjung Bayang berjarak kira-kira 4 km ke arah barat. Alasan penulis memilih objek tersebut dikarenakan kehidupan para penjual dan pekerja jasa hiburan tersebut layaknya kehidupan nelayan pada umumnya dimana ada majikan dan pekerja atau yang masyarakat Makassar kenal sebagai punggawa-sawi. Adanya ‘transformasi profesi’ yang tidak meninggalkan ciri-ciri profei sebelumnya, yaitu dari profesi nelayan menjadi pekerja jasa hiburan tapi tetap memegang ciri-ciri yang ada pada kehidupan nelayan.

2.    Maritim, Masyarakat, dan Lingkungan Modern
Sebenarnya, kata modern kurang tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia karena sangat ambivalen[1], dimana masyarakat Indonesia sebagian besar masih menggunakan peralatan-peralatan tradisional dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kata modern yang dimaksud adalah penggunaan teknologi dan juga kehidupan masyarakat yang mainstream. Banyak masyarakat mulai ikut-ikutan dengan perkembangan zaman yang ada meskipun, kebiasaan-kebiasaan lama tidak ditinggalkan.  
Tak terlepas dari kehidupan pesisir, masyarakat disana juga ternyata mengikuti perkembangan zaman walaupun tak semaju kehidupan di kota. Kondisi lingkungan tersebut mempengaruhi sebagian dari kehidupan mereka, mulai dari segi pekerjaan.
Tradisi kemaritiman adalah kebiasaan masyarakat maritim nusantara yang sudah dilakukan sejak lama. Biasanya tradisi maritim berkaitan dengan fase-fase pembuatan kapal (Safri Burhanuddin, dkk, 2003:173), tetapi jika melihat kondisi yang sekarang, tradisi tersebut mulai hilang. Memang, fase pembuatan kapal sudah hilang, namun tradisi-tradisi seperti mitos-mitos pelaut, sesajen, dan sistem dalam masyarakat maritim tersebut masih ada. Walaupun lingkungan sudah mulai memasuki fase ‘modern’, tapi ideologi nenek moyang masih tetap tersimpan walau hanya sedikit yang dapat dipertahankan pada kehidupan masyarakat pesisir sekarang.

3.    Ekologi Tanjung Bayang
Tanjung Bayang terletak di Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Makassar, Sulawesi Selatan. Tanjung Bayang yang merupakan daerah pesisir kini lebih dikenal sebagai lokasi wisata pantai. Profesi masyarakat sekitar Tanjung Bayang kebanyakan adalah penjual dan pekerja jasa hiburan. Kondisi lingkungannya yang berpasir sangat cocok sebagai tempat berwisata. Melihat hal tersebut, masyarakat mulai memanfaatkan sumber daya yang ada dan mengubah cara hidup mereka yang dari awalnya merupakan tempat bagi para nelayan, sekarang menjadi tempat wisata. Walaupun begitu, masyarakat hanya beralih profesi saja, mereka tidak meninggalkan kebudayaan yang sering disebut punggawa-sawi. Punggawa, dalam hal ini majikan, yang awalnya mempekerjakan orang (sawi) untuk melaut, sekarang mereka mencari pekerja jasa hiburan. Hiburan/ wahana pantai yang ditawarkan yaitu Banana Boat dan kapal bebek.
Salah satu pekerja jasa hiburan bernama Akbar mengaku dipekerjakan oleh Ibu Tanning yang merupakan tetangga dekatnya. Hal ini sangat mirip dengan halnya sistem punggawa-sawi. Pada awalnya, Ayah dari Ibu Tanning merupakan juragan nelayan ditempat tersebut, kini, sejak 10 tahun terakhir ketika Tanjung Bayang menjadi lokasi wisata, Ibu Tanning memanfaatkan kapal-kapal nelayan yang ia miliki untuk dipakai sebagai Banana Boat. Selain sistem punggawa sawi, ternyata pekerja jasa hiburan maupun penjual memiliki kepercayaan terhadap mitos-mitos tentang laut, seperti menaruh sesajen ditengah laut pada hari-hari tertentu. Ditengah lingkungan dimana kebudayaan lokal sedang tergeser oleh westernisasi, mereka berusaha mempertahankan kebudayaan asli, meskipun tidak semuanya. Sebenarnya, hal tersebut yang membuat suatu daerah terlihat unik.

4.    Separuh Perjalanan...
Zaman memang selalu berubah-ubah dan menciptakan warnanya sendiri. Walaupun berubah, tentunya warna dasar tetap ada dan mungkin menghilang. Kehidupan sekarang merupakan kehidupan masa lampau yang dipoles oleh waktu. Penulis menyimpulkan bahwa kehidupan maritim di Tanjung Bayang memiliki beberapa kemiripan dengan kehidupan nelayan pada umunya. Contohnya pada penelitian hari kelima, Akbar yang seorang pekerja jasa hiburan berperan sebagai Sawi, sedangkan majikannya berperan sebagai Punggawa. Mungkin yang membedakan hanya profesi saja, dimana mereka tidak lagi melaut, tetapi pekerjaan yang memanfaatkan keindahan pantai Tanjung Bayang.
Selain itu, para penjual-penjual di sekitar Tanjung Bayang memanfaatkan jumlah pengunjung yang ada. Diperkirakan jumlah pengunjung dalam sehari berkisar dari 500 orang sampai 1000 orang. Tentu, Tanjung Bayang menjadi lahan ekonomi yang menjanjikan bagi para penjual-penjual ini. Kecuali, pada hari-hari dengan cuaca yang kurang baik, pengunjung yang datang kurang ramai.
Entah berapa lama lagi perjalanan yang ditempuh oleh kebudayaan untuk berubah seutuhnya atau sebaliknya, kembali ke asal. Sesungguhnya, masyarakat sendirilah yang menentukan ke arah mana kebudayaan mereka dibawa.
 
KEPUSTAKAAN
Budiawan, Ambivalensi: Post-Kolonialisme Membedah Musik Hingga Agama di Indonesia (Jakarta: Jalasutra, 2010)
Burhanuddin, Safri, dkk, Sejarah Maritim Indonesia (Jakarta: Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Non Hayati, Badan Riset Kelautan Perikanan (BRKP), dan Departemen Kelautan dan Perikanan, 2003).
Helmi, A.F., “Beberapa Teori Psikologi Lingkungan”, Buletin Psikologi, Tahun VII, 2 Desember 1999.


[1] Budiawan, Ambivalensi Post-Kolonialisme Membedah Musik Sampai Agama di Indonesia (Jakarta, Jalasutra : 2010), perihal. 1

Tuesday, December 17, 2013

Legenda Natal (Santa Claus Another Version)

    Memasuki bulan desember, anak-anak pada umumnya senang mendengar kisah-kisah natal dan tentu saja, yang paling menarik dari semua itu adalah hadiah natal. mungkin jika kita mendengar kata hadiah natal, kita teringat pada sosok kakek tua dengan jubah merah dan tertawa "ho.. ho.. ho..", tak asing lagi adalah Santa Claus. Santa Claus merupakan sosok dermawan yang diilhami dari tokoh nyata, Santo Nickolas yang hidup pada pemerintahan Kaisar Dioklesianus (abad IV) dan berasal dari Myra. Tapi, tahukah kamu kalau sosok Santa Claus diberbagai belahan dunia berbeda satu sama lain?
    Check this out!

10. The Yule Lads (Islandia )

Yule-Lads
Stekkjastaur
   Yule Lads atau Yulemen, adalah sekelompok makhluk nakal yang berjumlah 13 orang. Mereka telah mengambil tempat Santa Claus pada perayaan Natal di Islandia. Penampilan perdana mereka dapat ditelusuri kembali ke awal tiga puluhan, ketika seorang penulis Icelandia menyusun sebuah puisi pendek yang menggambarkan peran mereka dalam musim Natal. Sejak saat itu mereka sudah melalui banyak reinkarnasi, dari pemberi hadiah yang dicintai hingga sebagai makhluk yang haus darah menculik dan memakan anak-anak di malam hari...!.
    Walaupun demikian, para Yule Lads telah menjadi terkenal dengan karakter nakalnya. Si Ketkrokur, misalnya, menggunakan kail panjang untuk mencuri daging, sementara Gluggagaegir mengintai jendela orang untuk menemukan apa yang akan dicuri di malam harinya. Si Stekkjastaur, adalah yang paling favorit, sering berjingkat-jingkat untuk mengganggu domba.
    The Yule Lads ini bukan hanya tentang karakter bermain aneh-mereka, tetapi mereka juga memberikan hadiah kepada anak-anak. Didampingi oleh Kucing Natal, hadiah mereka taruh dalam sepatu anak-anak yang berperilaku baik di tiga belas malam menjelang Malam Natal. Sedangkan anak-anak nakal  hanya diberikan kentang.

9. Tomte (Skandinavia)

tomte_by_Jenny_Nystrom-thumb  Legenda Tomte dapat ditemukan di negara-negara Skandinavia seperti Norwegia, Finlandia, dan Swedia. Dalam inkarnasi awal mereka, Tomte (juga dikenal sebagai Nisse) adalah makhluk kerdil yang terus mengawasi peternakan keluarga. 
   Mereka umumnya baik tetapi mereka memiliki sifat pemarah, dan cepat menghukum atau menakali mereka yang kelakuannya tidak terpuji di lahan pertanian tersebut.
Tomte   Dari waktu ke waktu, dengan meningkatnya pengaruh kristen, Tomte akhirnya menjadi lebih terintegrasi ke dalam perayaan Natal tradisional. Penampilan mereka juga berubah, mereka diberi fitur lebih manusiawi dan akhirnya mengambil peran yang lebih erat terkait dengan Santa Claus.
   Tomte moderen (sekarang dikenal dengan berbagai sebagai Jultomte, Julnisse, dan Joulupukki) masih berbeda dari Santa dalam banyak hal.  Paling menonjol adalah mereka cenderung tidak menjadi gemuk, dan meskipun mereka mungkin mengendarai kereta luncur, tetapi Tomte tidak terbang. Mereka tidak hidup di Kutub Utara. Yang juga unik adalah bahwa meskipun Tomte membawa hadiah kepada anak-anak, ia tidak diam-diam melakukannya denagn memasuki cerobong asap di malam hari. Sebaliknya, orang tua atau kerabat akan berdandan seperti Tomte dan membawa hadiah kepada anak-anak secara pribadi.

8. Christkid (Jerman, Austria, Brasil)
Christkind   Christkid secara harfiah berarti "Anak Kristus ," Christkid adalah pemberi hadiah yang terkait dengan berbagai belahan dunia di mana Kristen adalah agama utama. 
   Ia dipopulerkan di tahun 1500-an oleh Martin Luther, yang berharap bahwa Christkind lebih kristiani dari Santo Nicholas. 
   Karena  arti harfiahnya adalah bayi Yesus, maka Christkid biasanya digambarkan sebagai kecil, anak suci dengan rambut pirang dan sayap malaikat.  Pengaruh Christkid  berkurang dengan meningkatnya popularitas Santa Claus, tetapi masih dirayakan secara luas, terutama di daerah-daerah Katolik di sebagian besar Amerika Selatan dan Tengah.
   Tidak seperti banyak Santa pemberi hadiah,  Christkid tidak pernah benar-benar terlihat. Hadiah dipertukarkan untuk menghormati semangat orang Majus membawa hadiah untuk bayi Yesus, tetapi Christkid sendiri tidak pernah membuat penampakan.  Anak-anak lebih sering diberi tahu bahwa ia menghilang beberapa saat sebelum mereka tiba.  
7. Belsnickel (Jerman, Austria, Argentina,  dan Amerika Serikat)
 
Belsnickel   Belsnickel adalah tokoh legendaris yang menyertai Santa Claus di daerah tertentu di Eropa, juga di beberapa komunitas kecil Belanda di Pennsylvania.
   Seperti Krampus di Jerman dan Austria atau La Pere Fouettard di Perancis, peran Belsnickel adalah menjadi disiplin utama Santa rombongan.
Belsnickel2   Dia biasanya digambarkan sebagai orang gunung  dengan bulu yang menutupi tubuhnya, dan dia kadang-kadang memakai topeng dengan lidah panjang. 
Tidak seperti Sinterklas, yang dirancang untuk dicintai oleh anak-anak, Belsnickel umumnya merupakan karakter yang harus ditakuti, dan di hampir semua daerah ia semacam peringatan untuk memaksa anak-anak menjadi menjadi baik.
   Meskipun umumnya Belsnickel sebagai sosok yang negatif, di beberapa daerah dia juga dikenal memberi hadiah. Di Jerman, misalnya, anak-anak berperilaku baik diberi permen dan hadiah-hadiah kecil pada 6 Desember, hari pesta St Nicholas.  Sementara nak-anak nakal diberi batubara atau switch, dan di beberapa tempat mereka bahkan menerima kunjungan dari Belsnickel sendiri, yang akan memperingatkan mereka bahwa mereka harus pada perilaku terbaik mereka.

6. Pere Noel dan La Pere Fouettard (Perancis)

Pere-Noel    Papa Noel adalah salah satu tokoh yang paling populer dari St Nick, dan Pere Noel dari Perancis adalah salah satu versi yang paling terkenal.  Dia menyerupai Santa Claus dalam penampilan, tapi tidak menggunakan rusa.  Dia hanya naik seekor keledai yang disebut Gui, yang berarti Mistletoe dalam bahasa Prancis.
    Seperti banyak negara lain, beberapa daerah di Perancis juga merayakan St Nicholas hari pada Desember Kelima.
Perancis juga memiliki karakter bernama La Pere Fouettard Seperti Belsnickel, dia seorang tokoh yang seharusnya ditakuti oleh anak-anak nakal.
la-pere-fouttard   Di versi yang paling populer, dikatakan bahwa sekitar tahun 1100 La Pere Fouettard dan istrinya menculik dan membunuh tiga pemuda dan kemudian dimasak ke dalam rebusan. Setelah korban ditemukan dan dibawa kembali ke kehidupan oleh dermawan St Nicholas, La Pere Fouettard bertobat dan bersumpah untuk melayani sebagai penolong.  
   Seperti Sinterklaas dan banyak variasi lainnya Santa, Pere Noel menaruh hadiah dan permen di sepatu kiri di sebelah perapian. La Pere Fouettard mempunyai karakter yang muram. Dia digambarkan membawa rantai berkarat dan cambuk untuk anak-anak yang berkelakuan nakal. 
Dalam beberapa versi cerita, ia bahkan lebih brutal, dan diceritakan akan memotong lidah anak-anak yang tertangkap berbohong....!
5.La Befana (Italia)

la-befana2
   Mirip dengan Santa Claus dalam gaya tapi cukup berbeda dalam penampilan, tukang sihir Befana telah menjadi bagian dari perayaan besar Natal di Italia.
    Dengan cerita beragam, tetapi versi yang paling populer menggambarkan dia sebagai wanita yang baik hati yang memberi makanan dan tempat berlindung kepada tiga orang bijak sementara mereka dalam perjalanan untuk mengunjungi bayi Yesus.
    Sama seperti busana  tradisional penyihir Halloween, Befana digambarkan sebagai seorang penyihir tua yang menunggang sapu, dan dia biasanya mengenakan selendang hitam dan membawa tas hadiah.
la-befanaDia dianggap tidak suka dilihat, dan akan mendera anak-anak yang mengintainya dengan sapu -- tidak diragukan lagi cara cerdas untuk menjaga anak-anak di tempat tidur sementara orangtua mengatur hadiah di malam hari.
   Seperti Sinterklas, La Befana juga naik turun dari cerobong asap untuk meninggalkan hadiah untuk anak-anak, dan dia juga akan meninggalkan sepotong  batubara bagi mereka yang nakal. 
Befana legendaris sebagai pengurus rumah tangga yang terbaik di seluruh Italia, ia juga dikenal sering menyapu lantai di sekeliling jalan keluar cerobong asap.

4. Krampus (Austria, Jerman, dan Hungaria)

    Di negara-negara Alpine, Santa Claus adalah seorang periang yang kurang lebih sama dengan pemberi hadiah seperti dia di Amerika Utara, dengan satu perbedaan penting: dia disertai oleh makhluk yang menakutkan, raksasa haus darah yang disebut Krampus.
    Dengan nama yang berasal dari kata Jerman untuk "cakar," Krampus berfungsi untuk menakut-nakuti anak-anak nakal.
Krampus   Legenda makhluk ini dimulai ratusan tahun lalu, tetapi gereja dicap mempengaruhinya di tahun 1800an.
    Sekarang ini, makhluk itu masih menjadi karakter Natal di beberapa bagian dari Bavaria dan Austria, di mana "Hari Krampus," atau "Krampustag," diadakan pada 5 Desember.  Orang-orang berdandan sebagai Krampus dan melakukan parade melalui jalan-jalan kota, menakut-nakuti orang, dan bahkan ada beberapa kota yang terus mengabdikan diri untuk festival hiburan dalam merayakan sejarah makhluk  ini. 
   Memberi hadiah bukanlah gaya Krampus. Dalam cerita rakyat tradisional, ia jauh lebih cenderung memberikan anak-anak nakal dengan pukulan dari batang pohon birch atau, jika mereka beruntung, sebuah peringatan keras. Dalam versi lebih gelap dari cerita ini, ia bahkan digambarkan penculik anak yang kejam, mengurung mereka di dalam karung goni, dan melemparkan mereka di sungai. 
3. Ded Moroz and the Snow Maiden (Rusia)

    Secara harfiah diterjemahkan sebagai "Kakek Frost," Ded Moroz adalah Santa tradisional pemberi hadiah-negara Slavia di Eropa Timur.  Seperti Sinterklas, Ded Moroz memakai kostum merah  dan sportif dengan janggut putih, tetapi dia tidak menggunakan rusa atau naik kereta luncur.  Sebaliknya, ia mengendarai troika, yang merupakan  kereta luncur tradisional Rusia.
ded-moroz-snow-maidenDed-Moroz
   Hal yang paling menarik dari Ded Moroz adalah latar belakangnya. Diceritakan, dia pernah menjadi tukang sihir jahat dan keji yang menculik anak-anak dan meminta hadiah sebagai tebusan. Seiring waktu, ia direformasi, dan kini ia justru memberi hadiah kepada anak-anak untuk menebus kejahatannya.  Yang juga unik dari Ded Moroz  adalah cucunya Snegurochka, "Snow Maiden," yang  menemaninya di perjalanan.
   Ded Moroz biasanya datang pada malam Tahun Baru. Seperti Sinterklas, ia membawa hadiah untuk anak-anak dan menempatkan mereka di bawah pohon Tahun Baru, meskipun di beberapa versi ia akan muncul di pesta-pesta dan perayaan untuk memberikan hadiah secara pribadi. 
2. Sinterklaas and Black Peter (Belanda)

Sinterklaas-black-pete   Sinterklaas adalah versi Belanda untuk Santa Claus. Dengan kostum tradisional merah, janggut putih panjang, dengan karakter periang, dia mirip dengan Santa Amerika Utara yang terkenal, dan banyak yang mengklaim bahwa ia adalah mempengaruhi  penciptaan Santa Claus moderen. Tidak seperti Santa, Sinterklaas datang ke Belanda setiap tahun pada akhir November. Dia datang dengan kapal dari Spanyol, dan setelah mendarat ia berparade di jalan-jalan kota sehingga ia dapat menyapa semua anak-anak Belanda. Sinterklaas tidak menggunakan rusa kutub, tapi dibantu oleh Black Peter, seorang anak kecil yang membantunya membagikan hadiah. Ada banyak versi tentang bagaimana Black Peter dapat bersama Sinterklaas, beberapa di antaranya cukup kontroversial.  Pada awalnya diceritakan ia adalah budak dari Sinterklaas laki-laki, tetapi versi lain menyatakan bahwa ia adalah jenis setan. Karena kecenderungan rasis, dalam beberapa tahun terakhir latar belakang Black Peter telah ditulis ulang, dan dia sekarang lebih sering digambarkan sebagai penyapu cerobong asap.
Tidak seperti Santa Claus, Sinterklaas membawa hadiah pada 5 Desember, liburan yang dirancang untuk merayakan tokoh sejarah St Nicholas.  Sinterklaas tidak memberikan hadiah sendirian; tetapi Black  Peter lah yang naik turun cerobong asap untuk memberikan hadiah bagi anak-anak yang baik dan batubara atau kantong garam untuk mereka yang nakal.  Dalam versi legenda, Black Peter akan menculik anak-anak nakal dan membawa mereka pergi ke Spanyol sebagai hukuman. 
1. Father Christmas (Inggris)

Ghost-Christmas-Present
    Bersama dengan Sinterklaas, Father Christmas memberi pengaruh besar dalam penciptaan Santa Claus moderen Amerika, dan masih sebagai pemberi hadiah utama di hari natal di beberapa negara yang berbeda.  
    Dalam reinkarnasi modern, Father Christmas sering tidak bisa dibedakan dari Santa Claus, tapi cerita-cerita asal-usul mereka sebenarnya agak sedikit berbeda. Versi awal karakter dari tahun 1600-an menggambarkan dirinya sebagai orang tua gembira mengenakan jubah hijau.  
father-ChristmasPada waktu itu, ia tidak dilihat sebagai pemberi hadiah, melainkan sebagai kabar gembira semangat dan kegembiraan Natal.  Reinkarnasi ini dibuat terkenal oleh Charles Dickens dalam A Christmas Carol, yang menggunakan konsepsi populer Bapa Natal sebagai model untuk karakter "Ghost of Christmas Present". Dengan berjalannya waktu,  Bapak Natal lebur menjadi Santa Claus dan Sinterklaas ke peran yang lebih modern sebagai pembawa hadiah kepada anak-anak.
   Versi modern dari Bapak Natal sangat sedikit berbeda dari Santa Claus dalam metode pemberian hadiah.  Seperti Sinterklas, dia naik kereta salju ditarik oleh sebuah tim dari rusa kutub, dan naik turun dari cerobong asap meninggalkan hadiah untuk anak-anak baik. Kepala keluarga sering meninggalkan makanan untuk dia dan rusanya, meskipun ini berbeda-beda menurut beberapa negara.
   Beberapa versi dari legenda menyatakan bahwa dia mengenakan setelan hijau bukan merah yang lebih umum, dan ia tidak selalu tinggal di Kutub Utara.  Beberapa negara mengutip greenland sebagai rumah tradisional Bapa Natal, sementara yang lain menggunakan Provinsi Lapland Finlandia.