Friday, January 10, 2014

ArchaeNote

KEHIDUPAN PESISIR DILIHAT DARI KACAMATA KEKINIAN
(Artikel Ekologi Maritim)
Oleh Peniel Chandra

1.    Pendahuluan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi IV, ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan (kondisi) alam sekitarnya (lingkungannya). Ekologi tentu erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, entah dimana lingkungannya, pastilah mempengaruhi tingkah laku manusia tersebut. Dalam ilmu psikologi, ada tiga teori psikologi dalam memprediksi perilaku manusia. Pertama, perilaku disebabkan dari dalam, kedua, perilaku disebabkan faktor lingkungan atau proses belajar, ketiga, perilaku disebabkan oleh interaksi manusia–lingkungan (A.F. Helmi, 1999:1). Teori ini tentu saja sangat berkaitan dengan ekologi jika ditinjau dari segi psikologis. Selain itu, kondisi alam juga terkait dengan pekerjaan pokok masyarakat dan perekonomian. Masyarakat agraris erat kaitannya dengan sumber perekonomian yang berasal dari lahan pertanian, sedangkan masyarakat maritim erat kaitannya dengan sumber perekonomian yang berasal dari lautan.
Pada tulisan ini, akan ditekankan pada masyarakat pesisir/ maritim, sesuai dengan hasil observasi lapangan yang dilakukan oleh penulis. Dalam kehidupan maritim juga dikenal dengan sosial budaya bahari. Menurut Koentjaraningrat menerapkan konsep “tiga wujud kebudayaan”, menurut Sanjek menerapkan konsep “kreasi dan dinamika budaya”, dan menurut Vayda menerapkan metode penjelasan progresif kontekstual” sebagai model deskripsi, penjelasan dan analisis secara empirik. Wujud budaya bahari nelayan ialah sistem budaya (meliputi terutama sistem-sistem pengetahuan, gagasan, keyakinan, dan daftar kebutuhan serta cita-cita dalam kognitifnya), kelembagaan (organisasi, kelompok kerjasama nelayan, hak-hak pemilikan/kontrol atas wilayah dan sumberdaya laut), dan teknologi (sarana/prasarana transportasi laut, sarana penggerak berupa layar, mesin, alat-alat tangkap, perlengkapan fisik lainnya).
Pada tulisan kali ini, penulis mengambil objek di daerah pesisir, tepatnya di Tanjung Bayang, Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Makassar, Sulawesi Selatan. Dari Kota Makassar, Tanjung Bayang berjarak kira-kira 4 km ke arah barat. Alasan penulis memilih objek tersebut dikarenakan kehidupan para penjual dan pekerja jasa hiburan tersebut layaknya kehidupan nelayan pada umumnya dimana ada majikan dan pekerja atau yang masyarakat Makassar kenal sebagai punggawa-sawi. Adanya ‘transformasi profesi’ yang tidak meninggalkan ciri-ciri profei sebelumnya, yaitu dari profesi nelayan menjadi pekerja jasa hiburan tapi tetap memegang ciri-ciri yang ada pada kehidupan nelayan.

2.    Maritim, Masyarakat, dan Lingkungan Modern
Sebenarnya, kata modern kurang tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia karena sangat ambivalen[1], dimana masyarakat Indonesia sebagian besar masih menggunakan peralatan-peralatan tradisional dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kata modern yang dimaksud adalah penggunaan teknologi dan juga kehidupan masyarakat yang mainstream. Banyak masyarakat mulai ikut-ikutan dengan perkembangan zaman yang ada meskipun, kebiasaan-kebiasaan lama tidak ditinggalkan.  
Tak terlepas dari kehidupan pesisir, masyarakat disana juga ternyata mengikuti perkembangan zaman walaupun tak semaju kehidupan di kota. Kondisi lingkungan tersebut mempengaruhi sebagian dari kehidupan mereka, mulai dari segi pekerjaan.
Tradisi kemaritiman adalah kebiasaan masyarakat maritim nusantara yang sudah dilakukan sejak lama. Biasanya tradisi maritim berkaitan dengan fase-fase pembuatan kapal (Safri Burhanuddin, dkk, 2003:173), tetapi jika melihat kondisi yang sekarang, tradisi tersebut mulai hilang. Memang, fase pembuatan kapal sudah hilang, namun tradisi-tradisi seperti mitos-mitos pelaut, sesajen, dan sistem dalam masyarakat maritim tersebut masih ada. Walaupun lingkungan sudah mulai memasuki fase ‘modern’, tapi ideologi nenek moyang masih tetap tersimpan walau hanya sedikit yang dapat dipertahankan pada kehidupan masyarakat pesisir sekarang.

3.    Ekologi Tanjung Bayang
Tanjung Bayang terletak di Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Makassar, Sulawesi Selatan. Tanjung Bayang yang merupakan daerah pesisir kini lebih dikenal sebagai lokasi wisata pantai. Profesi masyarakat sekitar Tanjung Bayang kebanyakan adalah penjual dan pekerja jasa hiburan. Kondisi lingkungannya yang berpasir sangat cocok sebagai tempat berwisata. Melihat hal tersebut, masyarakat mulai memanfaatkan sumber daya yang ada dan mengubah cara hidup mereka yang dari awalnya merupakan tempat bagi para nelayan, sekarang menjadi tempat wisata. Walaupun begitu, masyarakat hanya beralih profesi saja, mereka tidak meninggalkan kebudayaan yang sering disebut punggawa-sawi. Punggawa, dalam hal ini majikan, yang awalnya mempekerjakan orang (sawi) untuk melaut, sekarang mereka mencari pekerja jasa hiburan. Hiburan/ wahana pantai yang ditawarkan yaitu Banana Boat dan kapal bebek.
Salah satu pekerja jasa hiburan bernama Akbar mengaku dipekerjakan oleh Ibu Tanning yang merupakan tetangga dekatnya. Hal ini sangat mirip dengan halnya sistem punggawa-sawi. Pada awalnya, Ayah dari Ibu Tanning merupakan juragan nelayan ditempat tersebut, kini, sejak 10 tahun terakhir ketika Tanjung Bayang menjadi lokasi wisata, Ibu Tanning memanfaatkan kapal-kapal nelayan yang ia miliki untuk dipakai sebagai Banana Boat. Selain sistem punggawa sawi, ternyata pekerja jasa hiburan maupun penjual memiliki kepercayaan terhadap mitos-mitos tentang laut, seperti menaruh sesajen ditengah laut pada hari-hari tertentu. Ditengah lingkungan dimana kebudayaan lokal sedang tergeser oleh westernisasi, mereka berusaha mempertahankan kebudayaan asli, meskipun tidak semuanya. Sebenarnya, hal tersebut yang membuat suatu daerah terlihat unik.

4.    Separuh Perjalanan...
Zaman memang selalu berubah-ubah dan menciptakan warnanya sendiri. Walaupun berubah, tentunya warna dasar tetap ada dan mungkin menghilang. Kehidupan sekarang merupakan kehidupan masa lampau yang dipoles oleh waktu. Penulis menyimpulkan bahwa kehidupan maritim di Tanjung Bayang memiliki beberapa kemiripan dengan kehidupan nelayan pada umunya. Contohnya pada penelitian hari kelima, Akbar yang seorang pekerja jasa hiburan berperan sebagai Sawi, sedangkan majikannya berperan sebagai Punggawa. Mungkin yang membedakan hanya profesi saja, dimana mereka tidak lagi melaut, tetapi pekerjaan yang memanfaatkan keindahan pantai Tanjung Bayang.
Selain itu, para penjual-penjual di sekitar Tanjung Bayang memanfaatkan jumlah pengunjung yang ada. Diperkirakan jumlah pengunjung dalam sehari berkisar dari 500 orang sampai 1000 orang. Tentu, Tanjung Bayang menjadi lahan ekonomi yang menjanjikan bagi para penjual-penjual ini. Kecuali, pada hari-hari dengan cuaca yang kurang baik, pengunjung yang datang kurang ramai.
Entah berapa lama lagi perjalanan yang ditempuh oleh kebudayaan untuk berubah seutuhnya atau sebaliknya, kembali ke asal. Sesungguhnya, masyarakat sendirilah yang menentukan ke arah mana kebudayaan mereka dibawa.
 
KEPUSTAKAAN
Budiawan, Ambivalensi: Post-Kolonialisme Membedah Musik Hingga Agama di Indonesia (Jakarta: Jalasutra, 2010)
Burhanuddin, Safri, dkk, Sejarah Maritim Indonesia (Jakarta: Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Non Hayati, Badan Riset Kelautan Perikanan (BRKP), dan Departemen Kelautan dan Perikanan, 2003).
Helmi, A.F., “Beberapa Teori Psikologi Lingkungan”, Buletin Psikologi, Tahun VII, 2 Desember 1999.


[1] Budiawan, Ambivalensi Post-Kolonialisme Membedah Musik Sampai Agama di Indonesia (Jakarta, Jalasutra : 2010), perihal. 1

No comments:

Post a Comment